Radio lokal Analog Mendunia

141017_androidfmHitzfm Jakarta. Stasiun radio pada awalnya hanya berupa sistem radio dan audio telegraf, bukan suara seperti saat ini. Pengiriman suara pertama yang dapat disebut sebagai sebuah penyiaran terjadi pada malam Natal tahun 1906, dilakukan oleh Reginald Fessenden. Pada Saat itu banyak orang mencoba untuk membuat sistem komunikasi serupa.

Pada dekade berikutnya, KDKA AM dari Pittsburgh, Pennsylvania menjadi stasiun radio “komersial pertama” dan berlisensi melakukan penyiaran pada tanggal 2 November 1920. Disebut komersial karena stasiun ini memiliki lisensi namun mereka tidak mengudarakan iklan sampai beberapa tahun kemudian lalu Stasiun radio menjadi CFCF-AM memulai penyiaran pada 20 Mei 1920, Radio-radio ini juga dikenal dengan istilah Radio Analog, Media penyiaran tua dan terus berkembang di Dunia.

Kini kita memasuki Era Digital setelah Internet mulai digunakan sebagai media penyiaran pertengahan tahun 90-an. Media ini tidak memerlukan lisensi dan stasiun bisa melakukan siaran dari mana saja tanpa memerlukan transmitter dan sangat praktis. Namun Stasiun radio yang memberikan layanan penyiaran audio suara yang disiarkan melalui udara sebagai gelombang radio dalam bentuk radiasi elektromagnet dari sebuah antena pemancar transmitter ke alat penerima sebuah kotak elektronik analog untuk mendengarkan Audio tak mau ketinggalan, Kombinasi dengan digital mereka lakukan apalagi kini berkembang pesat teknologi fitur smartphone dengan berbagai jenis untuk mendengarkan Radio Dengan berbagi operasi sistem, Dijalankan dengan Aplikasi Geratis. Seperti Radio lokal Hizt 912 fm dan BFM 104.6 di Tanjungpandan Belitung siaran ini dapat didengar lewat Internet baik itu di web broser ataupun di smartphone Android. Tak terbayangkan sebelumnya  teknologi siaran Radio lokal yang hanya bisa dilakukan dengan pemancar transmitter terbatas, kini bisa didengar diseluru penjuru Dunia. ( Yudi )

Museum Fatahillah

Hitzfm Travel Jakarta. Museum Fatahillah dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Museum ini merupakan museum terbesar di Jakarta yang menempati area seluas 13.388 m² dan berada di kawasan Kota Tua Batavia. Lokasi persisnya terletak di Jalan Taman Fatahillah Jakarta No. 2, Jakarta Barat.

Di museum ini Anda dapat menelusuri jejak sejarah Jakarta dari masa prasejarah hingga berdiri Batavia

Nama Fatahillah di ambil dari tokoh yang dikenal mengusir Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa dan memberi nama “Jayakarta” yang berarti Kota Kemenangan, yang kini menjadi kota Jakarta. Ia dikenal juga dengan nama Falatehan, Sunan Gunung Jati dan Syarif Hidayatullah. Jika di akhir pekan Museum Fatahillah banyak dikunjungi wistawan lokal dan mancanegara “Yudi”

Motif batik semula dilukis didaun lontar

Hitzfm Travel Jakarta. Jika kita jalan-jalan diseputaran kawasan Tanah Abang Jakarta tepatnya pusat perbelanjaan batik Nusantara Thamrin City kita akan banyak menemukan bermacam-macam ragam motif batik yang dijual oleh pedagang, Banyak wisatawan yang berbelanja disini, batik sudah menjadi ciri khas pakaian Nasional yang sudah go Internasional UNESCO telah memberikan pengakuan batik Indonesia ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Benda Warisan Manusia.

Seni membatik mulai di kenal Abad ke-12. Di Pulau Jawa, Surakarta dan Yogyakarta. berkembang pada abad ke-17. Semula batik  dilukis pada daun lontar, dengan dominasi bentuk binatang dan tanaman. Namun lambat laun muncul motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber, dan sebagainya. Jenis dan corak batik tradisional sendiri tergolong sangat banyak. Corak dan variasinya disesuaikan dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang memiliki kebudayaan tradisi batik yang diwariskan turun temurun.

Kalangan keraton Semula menjadikan batik kesenian gambar di atas kain yang dikhususkan untuk pakaian keluarga para raja Jawa dan para pengikutnya. Karena itu batik hanya dikerjakan terbatas dalam lingkungan keraton. Namun karena banyak pengikut raja bertempat tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa ke luar keraton dan dikerjakan di rumah masing-masing abdi dalem.

Selanjutnya kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan meluas menjadi pekerjaan rumah tangga kaum wanita untuk mengisi waktu senggang. Maka, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari oleh wanita dan pria dari segala golongan kini seni batik telah menjadi Industri diproduksi secara besar-besaran di Indonesia menebus pasar Internasional. ( Yudi

Gangan Pelandok, Cita Rasa Pulau Belitung

Hitzfm Travel Belitong Gangan darat pelandok adalah salah satu masakan khas Pulau Belitung dengan menggunakan daging pelandok sebagai bahan utamanya dan diracik menggunakan bumbu khas nusantara seperti kunyit, laos, kemiri, kencur, bawang putih, bawang merah, asam,cabe, garam, terasi, singkong, serta pucuk daun nangka.

Bagi masyarakat Belitung yang berada di luar Pulau Belitung, tidak mudah untuk mendapatkan daging pelandok. Seperti yang dialami Evi Hardianti. Bagi perempuan asli Belitung berusia 27 tahun, yang sejak tiga tahun lalu bekerja di Jakarta, memasak makanan khas Pulau Belitung tidak bisa terpisahkan dari kehidupanya.

“Umumnya makanan di Jakarta, rasanya hampir mirip,” ucapnya disela-sela berbelanja kebutuhan memasak, di pasar tradisional Jembatan Merah Saharjo, Jakarta. Dengan satu kilo daging sapi. Hari itu, Evi akan memasak gangan pelandok. Karena daging pelandok tidak didapat, Evi menggantinya dengan daging sapi. Meski serat daging sapi agak berbeda dengan daging pelandok.

“Daging pelandok itu hampir sama seperti daging itik. Agak kenyal. Masakan gangan darat tidak mesti daging pelandok, bisa dengan daging sapi maupun ayam atau ikan,” tutur Evi sambil memasukan daging sapi ke dalam wadah air yang sudah mendidih.

Cara memasak gangan pelandok seperti yang dilakukan Evi adalah daging pelandok yang sudah terpotong kecil-kecil dimasukkan ke dalam air mendidih. Kemudian tunggu hingga daging menjadi lunak. Setelah itu, masukan singkong yang sudah terpotong kecil-kecil dan bumbu gangan yang sudah dihaluskan. Untuk menambah aroma dari rasa gangan darat ini, masukan daun nangka. Tunggu hingga matang dan rasakan nikmatnya dari gangan pelandok.

Pelandok atau kancil (nama ilmiah ; tragulus javanicus) adalah hewan menyusui (mamalia) sebangsa kijang yang kecil tubuhnya. Pelanduk adalah spesies rusa berkuku genap dari keluarga Tragulidae. Pada ukuran dewasa ukurannya sama dengan kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Masyarakat Pulau Belitung menyebutnya pelandok, yang hidup di kawasan hutan-hutan kecil. Namun belakangan ini pelandok langka di Pulau Belitung karena perburuan pelandok yang tidak terkontrol dan habitatnya terancam akibat hutan telah menjadi areal perkebuanan dan tambang-tambang liar.

Konon pada masa pemerintahan Belanda, pernah ada undang-undang perburuan bagi masyarakat Belitung sehingga hanya pada bulan-bulan tertentu saja masyarakat diizinkan untuk berburu pelandok. Ini dilakukan agar mamalia ini tetap terjaga dari kepunahan.(Arizal Wahyudi)

Sistem Kelembagaan Adat Belitong

Hitzfm Travel Belitong. Sejak abad ke 16, Ketika Depati Cakraninggrat I atau Ki Gegegeh Yak’kob (1618-1661) beliau membangun rumah adat yang disebut dengan Ruma Gede serta membuat pula hukum adat kemudian diterapkan dengan baik dan teratur, tetapi pada masa itu, sistem yang beliau terapkan masih sentralistis, artinya rakyat mesti berhubungan langsung kepada raja jika hendak mengaplikasikan ketentuan adat tersebut, misalnya dalam hal perizinan atau persetujuan membuka hutan, pemukiman, dan lain-lain.

Baru setelah pada masa Depati Cakraningrat II yaitu KA Abdulah atau Ki Mending (1661-1696) sistem pelaksanaan adat diserahkan kepada Dukon Kampong, di tiap-tiap kampung, jadi masyarakat tidak lagi mesti menemui raja jika hendak berurusan, baik mengenai adat maupun berbagai aturan wilayah lainnya Sistem kewenangan adat kemudian terbagi menjadi dua karena pada masa Cakraninggrat III atau KA Gending (1696-1700). Sistem pemerintahan dibawah raja dibentuklah wilayah-wilayah lebih kecil yang disebut dengan Ngabehi, Hingga Kerajaan Belitong terbagi menjadi empat Ngabehi Yaitu, Ngabehi Badau dengan sebutan Tanah Yudha atau Krama Yudha. Ngabehi Sijuk dengan sebutan Wangsa Yudha atau Krama Yudha. Ngabehi Belantu dengan sebutan Sura Yudha, Ngabehi Buding dengan sebutan Istana Yudha. (Pada masa itu, sebutan Tanah Yudha dan lainnya pada istilah nama wilayah, untuk mengenang dan menghargai masa-masa kerajaan Hindu Majapahit yang berpengaruh di Badau)

Sistem adat istiadat yang sudah berlaku turun temurun seperti misalnya; membuka ladang, mengambil hasil hutan, danau, sungai, laut, juga acara ritual adat seperti habis panen; maras taon, selamatan kampong, dan lain-lain diserahkan kewenangananya pada Dukon Kampong. Sedang sistem hukum adat yang bersipat atministratif diserahkan pada Ngabehi, misalnya pengawasan pajak, denda, perdagangan, perselisihan warga, jadi praktisnya kepala wilayah atau ngabehi sebagai eksekutor raja.

Selanjutnya setelah ajaran Agama Islam cukup kuat tertanam pada masyarakat Belitong, yaitu masa akhir penyebaran Islam setelah meninggalnya Syeh Abubakar Abdullah dan mubaliq lainnya, kemudian Belitong mengenal adanya Penghulu Agama, Penghulu Agama pertama kita kenal yaitu KA Siasip. Pada masa itu sistem penghulu atau pemimpin acara atau gawe yang berdasarkan sendi-sendi agama mulai diterapkan misalnya; aturan pernikahan, adat begawai dalam pesta perkawinan, adat selamatan atau syukuran kelahiran putra-putri turunan raja atau pun masyarakat biasa, dan lain-lain.

Kesemua adat dan tradisi di atas tetap berjalan berdampingan, dari zaman ke zaman dan berkembang hingga saat ini. Peran Raja, Ngabehi, Dukon Kampong, serta Penghulu, merupakan figur yang tetap melekat dan tak terlepaskan dalam masyarakat Belitong. Karena itulah, jika sistem dan perangkat adat ini tidak dilestarikan ia akan berangsur punah. Kearifan lokal serta nilai luhur Urang Belitong akan menjadi lenyap. Kita tak akan memiliki jati diri sebagai orang yang terbina dalam Bhineka Tunggal Ika. Karena itulah, masyarakat adat yang sekaligus sebagai kekayaan negeri yang memiliki nilai-nilai luhur tersebut, mesti ditumbuhkembangkan dalam kehidupan modern, ia mesti mengisi khasanah kehidupan kita.
Menyikapi nilai-nilai luhur tersebut tentu mesti dengan kesungguhan yang maksimal, karena itu sangatlah tidak arif dan bijak jika kita sebagai Urang Belitong tak mengenal dan tidak melestarikannya.

Karakter Masyarakat Adat Belitong Karakter budaya masyarakat Belitung terbentuk dari abad lampau yang kini tetap bersemayam dalam tiap pribadi urang Belitong, adalah karakter yang penuh “pikat”, dalam arti ia memiliki keelokan tersendiri yang tidak dimiliki oleh etnik suku lain di Indonesia; jika kita mengenal keterbukaan sosial, toleransi, solidaritas maka kita akan temui dalam masyarakatnya. Itu muncul dan tumbuh dalam tiap pribadi Urang Belitong asli, karakter ini memungkinkan suku atau etnik lain yang berasal dari luar Belitong akan menjadi betah untuk tinggal menetap di Belitong.
Karakter yang terbina dari adat-istiadat yang secara umum diberlakukan sejak abad permulaan pemerintahan Raja Belitong Atau Depati Cakraninggrat (Raja-Raja Balok, sebutan dari sebagian masyarakat Belitong) adalah karakter yang terbentuk secara menyeluruh dan otonom hingga ia memiliki kesan yang hampir sama di seluruh pelosok wilayah Belitung. Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut ini:

– Bahasa tuturnya lemah lembut; ini pengaruh otoritas raja yang menanamkan adat dengan sikap sopan dan santun guna membangun ketentraman dan kedamaian. Bahasa ini diseragamkan di seluruh kekuasaan raja, kemudian dikenal dengan sebutan Bahase Belitong. Meski irama dan bunyi tetap dipengaruhi lingkungan alam yang terbentuk secara alamiah, namun bunyi hurup-hurup vokalnya tetap sama. Kelembutan bahasa dan tuturnya ini ditanamkan secara adat dengan tujuan untuk tidak saling menyakiti satu sama lainnya. Sedangkan kesamaan bunyi agar tidak ada perbedaan derajat pada diri orang Belitung.
Kekuatan bahasa ini sungguh menakjubkan. Ini terbukti terhadap bahasa-bahasa ibu dari eknik lain yang tinggal di sana, bahasa lain akan melebur dengan cepat ke dalam Bahase Belitong. Kelembutan tutur kata-katanya, bunyi irama bahasanya yang mengalun  mendayu, telah menjadikan hati orang yang mencintai ketentraman dan kedamaian terpikat.

– Menghormati Hak dan kewajiban masing-masing. Ini bermula dari hukum adat peraturan negeri yang dibuat raja, kemudian mentradisi di wilayah pemukiman dengan persyaratan yang ketat dibawah pengawasan Dukon Kampong maka tiap-tiap warga sudah ditentukan hak dan kewajibannya, misalnya untuk lokasi bercocok tanam dan mengambil hasil alam. Wilayah untuk lokasi itu dijaga secara mistis oleh dan hanya dukon kampong yang tahu, karena itu setiap hal ikhwal mengenai kewilayahan mesti seizin Dukon kampong. Meski demikian masih terbuka untuk merambah keperluan dari tiap warga ke wilayah lain, tapi mesti seizin dukon di wilayah yang bersangkutan.

Karakter masyarakat dalam hal ini sesungguhnya telah menjadikan Urang Belitong menjadi masyarakat yang tak rakus dan ia menjadi bijak dalam memilah dan memilih kepentingannya, hingga beberapa dekade hutan-hutan dan sumber daya alamnya masih lestari. Hanya orang-orang luar yang tidak taat pada adatlah yang banyak menggerus hasil dan merusak alam dan sikap budaya luar ini kemudian merambah ke dalam pola pikir sebagian masyarakat adat Belitong.

Sikap Terbuka dan tak menyukai kekerasan. Karakter ini memang terbentuk karena pada masanya; raja, mubaliq, penghulu, serta lebai, telah menanam sifat-sifat terbaik yaitu tanpa ada prasangka negatif apa pun terhadap orang lain (baca orang asing, sejarah mencatat adanya penerimaan raja terhadap orang asing, bahkan musuh sekalipun; masuknya dan menetapnya Tengku Akil yang kemudian membunuh Depati KA Mohamad Hatam masuknya Belanda, 28 juni 1851 untuk menambang timah, kemudian menggelar politik adu dombanya; menempatkan Syarif Mohamad dan Syarif Hasan dari Palembang, kemudian Syarif Hassim dari Lingga dan menempatkan Mas Agus Mohamad Assik dari Lepar guna melemahkan kekuasaan Depati (trik-trik untuk melenyapkan kekuasaan raja, yaitu pada masa Cakraninggrat VII dan VIII, Depati KA Hatam dan KA Rahad. Namun perlawanan KA Rahad cukup memberikan pelajaran bagi orang asing di masa itu).
Sikap terbuka dan tak menyukai kekerasan itu, membentuk karakter masyarakat
menjadi lebih mudah untuk dimanfaatkan oleh kelicikan pihak-pihak yang mau menangguk keuntungan. Meski demikian sesungguhnya mereka memiliki pendirian
yang keras dan tegas hanya karena pola tindakan mereka tidak berwatak agresor maka mereka terkesan penakut dan lugu.

Sikap pendirian yang keras dan tegas. Karakter ini dipengaruhi dari proteksi Raja yang menanamkan kewaspadaan untuk melindungi diri dari pengaruh orang asing (sejarah perlawanan para Depati terhadap penjajah di masanya). Dalam hal ini orang-orang asing yang datang di awal permulaan seperti Belanda dan China mesti membuat pemukiman tersendiri. Meski demikian pembauran begitu mudah terjadi karena keterbukaan masyarakatnya; sikap lugu dan penuh kejujuran menjadikan hubungan masyarakat asing dan asli menjadi terjalin mesra. Adanya sikap jujur masyarakat karena hukum adat yang berlaku pada masanya cukup ketat dan disegani.

– Hukum adat yang memproteksi perempuan Belitong, dengan dibuatkannya aturan yang tidak membolehkan perempuan Belitong dibawa keluar Belitong jika dinikahi oleh orang asing, mereka juga mesti membayar uang pajak pada Ngabehi dan hukum adat ini di sebut dengan adat Titukun. Adat ini tentu memiliki pengaruh yang luar biasa, dengan adanya kebijakan tersebut maka masyarakat dengan sendirinya membuat berbagai proteksi, baik secara magis maupun secara kongkrit. Maka tak aneh jika muncul pemeo dari pihak luar “Jika sudah terminum air dan tergoda dayang Belitong maka orang takkan bisa lagi pulang ke kampung asalnya”

– Sikap suka menolong dan berbagi, sipat ini pada masanya memang dipersyaratkan oleh adat, sistim tolong-menolong sudah tertanam sejak lama dalam masyarakat tradisional Belitong; misalnya jika ada kelompok yang berburu rusa secara bersama-sama dan diantaranya ada perempuan hamil maka sicabang bayi dalam perut sang ibu juga akan mendapatkan satu bagian yang sama jumlahnya. Begitupun terhadap pemilik alat misalnya; perahu, jala, lapun, bubu, dan alat mata pencaharian lainnya, maka sang pemilik dan alat-alatnya akan mendapatkan bagian yang sama; pemilik satu bagian dan untuk peralatan dan satu bagian, maka sang empunya mendapat dua bagian dari hasil usaha bersama menggunakan alat itu.

– Sikap gotong royong dan kebersamaan. Karakter ini telah menjadikan masyarakat Belitong, hidup penuh toleransi dengan solideritas yang tinggi. Dalam masyarakat tradisional, adat kebersamaan ini masih sangat kental, yang paling mudah dapat kita temui jika ada warga yang hendak mengadakan hajatan pesta pernikahan. Adat sudah mengatur segala tata caranya hingga kemudian tradisi ini menghadirkan; Pengulu Gawai, Mak Inang, Mak Panggong, Tukang Tanak, Tukang Bebason, dan lain-lainnya yang begitu unik Tata cara makan secara tradisional pun dikenal dengan sebutan Sedulang Sebakak. Kekentalan dalam kebersamaan ini kemudian melahirkan sifat-sifat yang penuh empati dan simpati dalam karakter masyarakat adat Belitong, hidup saling menyayangi, berbagi, serta berbelas kasih, jauh dari sifat serakah dan mau menang sendiri.

– Sikap masyarakat yang santai; ada beberapa karakter masyarakat yang unik seperti adat begalor sambil galer-galer ( bekisah; bercerita; bersenandung; bergurau; berkelakar; seraya melongsorkan kaki di atas tikar pandan pada serambi atau teras rumah) Kebiasaan tradisi masyarakat ini pada awalnya disebabkan oleh kebijakan raja terhadap rakyatnya di bidang ekonomi; bahwa hak wilayah perekonomian rakyat sudah dikavling berdasarkan wilayah adat masing-masing dan sesuai dengan profesi masing-masing, misalnya tukang berburu, berladang, nelayan, pencari madu, damar, rotan dan lain sebagainya akan menekuni profesi masing hingga mereka merasa terlindungi.

Mereka takkan mau mengambil alih pekerjaan yang lain karena adat telah mengaturnya secara tradisi turun-temurun. Dengan demikian jaminan ekonomi masyarakat menjadi terpenuhi dan mereka dapat hidup dengan sejahtera penuh kesantaian, saling menghormati bidangnya masing-masing jika ada yang serakah maka ia akan menerima sangsi adat; baik secara mistik atau pun hukum kongkrit raja.

Apalagi ketika raja sudah mengusahakan penggalian bijih timah (timah sudah mulai di gali pada masa Cakraninggrat VII, yaitu KA Mohammad Hatam, beliau mendatangkan akhli penggalian timah dari Singkep dan mempekerjakan orang Tionghwa, kemudian penggalian oleh Belanda; hingga pada masa Depati KA Moh Saleh, berdirinya billiton Maatschappy, kemudian dekade selanjutnyaGMB, TTBEL, hingga PT TIMAH ) rakyat bertambah makmur apalagi. Dengan demikian budaya galer-galer tumbuh melekat hingga kini maka tak aneh jika rumah penduduk dan mesjid atau pun surau mesti ada teras buat santai sambil begalor.
Meski Suramnya pertimahan di Belitung, budaya itu tetap melekat, tren baru pun muncul secara sporadis dengan masuknya budaya kape dan warung kopi untuk “bergaler-galer” , menjamur di hampir setiap kota di Belitung.

Sikap santai ini membuat pendatang selalu menilai urang Belitong terkesan malas dan lambat mengejar modernisasi, padahal tidaklah demikian karena urang Belitong taat pada adatnya dan menghormati alamnya. Dengan ketaatan yang lugu pada adat itulah, maka ada celah kesempatan terbuka bagi “pendatang” yang memang kebanyakan mencari penghidupan bahkan kekayaan, dengan merambah sumber daya alamnya secara berlebihan dan serampangan tanpa memperhatikan keseimbangannya.

Dengan masuknya “Pendatang” (baca budaya; termasuk modal asing hingga
mempengaruhi pola sistem, baik di aspek ekonomi juga pada etika yang dipersyaratkan oleh adat) hingga dampaknya adalah; bahwa pengrusakan alam tidak lagi menjadi monopoli dari pihak pendatang tapi sudah melebur ke dalam pola pikiran masyarakat setempat. Etika adat pun sudah terpinggirkan!

Adat Masa Kini

Lajunya percepatan teknologi, masuknya ragam budaya, menipisnya sumber daya
alam dan hutan-hutan adat yang terdegradasi (hutan adat, adalah wilayah hutan yang mengitari tiap-tiap kampung di mana masyarakat tradisional menggantungkan hidup secara tradisional dengan hutan tersebut, semestinya ini dilindungi) dengan tidak adanya lagi adat yang mengatur hal tersebut maka percepatan tersebut berangsur mengikis budaya setempat; merobah pola hidup yang lambat laun dapat menghilangkan karakter budaya masyarakatnya yang memiliki nilai luhur dan kearifan pada alam.

Sesungguhnya siapapun takkan dapat menolak adanya perubahan dalam dinamika kehidupan. Tetapi dinamika tersebut acapkali tak sesuai dengan budaya setempat yang telah terbangun berabad-abad. Kebahagiaan dan ketentraman hidup yang melekat secara tradisi dapat dirubah oleh pihak luar secara mendasar dengan alasan kepentingan yang lebih besar; seperti masuknya penanam modal yang bekerja sama dengan penguasa setempat; membabat hutan, menggali tanah pertambangan, menguras pasir, dan lain sebagainnya, secara serampangan, di wilayah setempat dengan alasan kepentingan yang lebih luas tanpa memperhatikan hak-hak masyarakat adat atau masyarakat tradisional.

Sesungguhnya, dinamika pembangunan yang adil, adalah prinsif yang menyeimbangkan hak-hak masyarakat adat atau masyarakat tradisional dengan kepentingan lain (baca kepentingan pemilik modal yang mencari keuntungan yang mengatasnamakan badan usahanya) keseimbangan dapat dibangun dengan tidak mengorbankan pihak manapun.

Urang Belitong yang terkenal dengan adat begalornya. Begalor intinya adalah untuk merekatkan silaturahmi guna kerukunan hidup dengan saling mengetahui sejarah maupun adat tradisi masa lalunya. Ikon budaya ini perlahan akan terkikis jika kepentingan individu lebih dikedepankan dari kepentingan sosial; ciri masyarakat modern yang dipacu dengan percepatan pencapaian teknologi serta ekonomi selalu bersipat individual. Karena itu, masyarakat Belitung perlu memiliki wadah pencerahan untuk mengukuhkan budaya begalor tadi, tradisi begalor sebagai perekat silaturahmi yang abadi.

Dengan berlandaskan budaya dan karakter masyarakat adatnya maka Belitong akan menyatu secara adat meski sudah terpisah menjadi dua kabupaten. Masyarakat Belitong tetap satu rumpun, yaitu Urang Belitong, meski di mana pun ia tinggal dan menetap.

Ian Sancin

Sunset Pantai Punai

74140916_pantaipunaiHitzfm Travel Belitong. Angin lembut menerpa wajah kami yang sedang mengendarai sepeda motor menyusuri jalanan aspal dengan pemandangan dikiri kanan hutan-hutan kecil ditumbuhi pohon-pohon gelam sekali- kali kami berhenti untuk memotret hutan tersebut lalu menlanjutkan kembali perjalanan menuju Pantai Punai kabupaten Belitung Timur terletak di sisi Tenggara pulau Belitung, Desa Tanjung Kelumpang. Dari Tanjungpandan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan.

Pantai ini masih alami berpasir putih dan di beberapa bibir pantai dihiasi batu-batu granit kecil menamba keindahan pantai. Di depan pantai ada sebuah pulau kecil, Pulau ini dinamakan penduduk setempat pulau punai, Tempat bersarangnya burung-burung punai sejenis burung merpati, Budayawan Belitung Ian Sancin mengabadikan pantai Punai kedalam karya Buku Novelnya Yin Galema.

Jika air laut sedang surut, Pengunjung pantai bisa berjalan kaki ke Pulau Punai sambil mencari rajungan dan kerang-kerang kecil yang banyak berada di Pantai punai. Namun yang lebih menarik bagi pencinta Photografi Pantai ini menghadirkan sensasi panorama alam dua sekaligus dipagi hari sunrise dan di sore hari sunset. Dibulan-bulan tertentu Pantai punai juga sering dijadikan tempat Camping (Yudi)

Sensasi Ikan Gangan

9140916_ganganketarapHitztfm Travel Belitung. Di antara panorama indah hamparan pasir pantai Tanjong tinggi, Belitung, terdapat warung makanan, Satu sajian menu khas seafood yang menarik untuk anda coba yakni masakan ikan gangan. “Nah Hitztfm Travel mencoba sensasi masakan ikang gangan ketarap” dengan kuahnya berwarna kuning dicampur irisan buah nanas, eeemm terasa asem pedes di mulut apalagi hembusan angin pantai yang menemani kami menjadikan makanan ini sangat luar biasa.

Masakan ikan gangan berwarna kuning, sekilas mirip gulai namun masakan ini tidak menggunakan santan, Warna kuning didapat dari warna alami kunyit, salah satu bahan rempah masakan ini. Selain kunyit, bahan rempah lainya yang menciptakan rasa sepesial adalah bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, lengkuas, sereh, kemiri, garam dan asam. Daun salam adalah bumbu pelengkap sementara buah nanas hal yang menjadikan rasa pemungkas masakan gangan.

Jenis-jenis ikan segar yang dimasak menjadi gangan, umum adalah ikan ketarap, kakap merah, dan ikan bulat, Bagian yang membuat enak dari ikan ini adalah kepalahnya. Apalagi dimasak dengan rasa pedas. Bagi Anda yang ingin menikmati masakan gangan di Pantai Tanjung tinggi cukup membayar 70 ribu perporsi. ( Yudi )