Radio lokal Analog Mendunia

141017_androidfmHitzfm Jakarta. Stasiun radio pada awalnya hanya berupa sistem radio dan audio telegraf, bukan suara seperti saat ini. Pengiriman suara pertama yang dapat disebut sebagai sebuah penyiaran terjadi pada malam Natal tahun 1906, dilakukan oleh Reginald Fessenden. Pada Saat itu banyak orang mencoba untuk membuat sistem komunikasi serupa.

Pada dekade berikutnya, KDKA AM dari Pittsburgh, Pennsylvania menjadi stasiun radio “komersial pertama” dan berlisensi melakukan penyiaran pada tanggal 2 November 1920. Disebut komersial karena stasiun ini memiliki lisensi namun mereka tidak mengudarakan iklan sampai beberapa tahun kemudian lalu Stasiun radio menjadi CFCF-AM memulai penyiaran pada 20 Mei 1920, Radio-radio ini juga dikenal dengan istilah Radio Analog, Media penyiaran tua dan terus berkembang di Dunia.

Kini kita memasuki Era Digital setelah Internet mulai digunakan sebagai media penyiaran pertengahan tahun 90-an. Media ini tidak memerlukan lisensi dan stasiun bisa melakukan siaran dari mana saja tanpa memerlukan transmitter dan sangat praktis. Namun Stasiun radio yang memberikan layanan penyiaran audio suara yang disiarkan melalui udara sebagai gelombang radio dalam bentuk radiasi elektromagnet dari sebuah antena pemancar transmitter ke alat penerima sebuah kotak elektronik analog untuk mendengarkan Audio tak mau ketinggalan, Kombinasi dengan digital mereka lakukan apalagi kini berkembang pesat teknologi fitur smartphone dengan berbagai jenis untuk mendengarkan Radio Dengan berbagi operasi sistem, Dijalankan dengan Aplikasi Geratis. Seperti Radio lokal Hizt 912 fm dan BFM 104.6 di Tanjungpandan Belitung siaran ini dapat didengar lewat Internet baik itu di web broser ataupun di smartphone Android. Tak terbayangkan sebelumnya  teknologi siaran Radio lokal yang hanya bisa dilakukan dengan pemancar transmitter terbatas, kini bisa didengar diseluru penjuru Dunia. ( Yudi )

Museum Fatahillah

Hitzfm Travel Jakarta. Museum Fatahillah dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Museum ini merupakan museum terbesar di Jakarta yang menempati area seluas 13.388 m² dan berada di kawasan Kota Tua Batavia. Lokasi persisnya terletak di Jalan Taman Fatahillah Jakarta No. 2, Jakarta Barat.

Di museum ini Anda dapat menelusuri jejak sejarah Jakarta dari masa prasejarah hingga berdiri Batavia

Nama Fatahillah di ambil dari tokoh yang dikenal mengusir Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa dan memberi nama “Jayakarta” yang berarti Kota Kemenangan, yang kini menjadi kota Jakarta. Ia dikenal juga dengan nama Falatehan, Sunan Gunung Jati dan Syarif Hidayatullah. Jika di akhir pekan Museum Fatahillah banyak dikunjungi wistawan lokal dan mancanegara “Yudi”

Motif batik semula dilukis didaun lontar

Hitzfm Travel Jakarta. Jika kita jalan-jalan diseputaran kawasan Tanah Abang Jakarta tepatnya pusat perbelanjaan batik Nusantara Thamrin City kita akan banyak menemukan bermacam-macam ragam motif batik yang dijual oleh pedagang, Banyak wisatawan yang berbelanja disini, batik sudah menjadi ciri khas pakaian Nasional yang sudah go Internasional UNESCO telah memberikan pengakuan batik Indonesia ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Benda Warisan Manusia.

Seni membatik mulai di kenal Abad ke-12. Di Pulau Jawa, Surakarta dan Yogyakarta. berkembang pada abad ke-17. Semula batik  dilukis pada daun lontar, dengan dominasi bentuk binatang dan tanaman. Namun lambat laun muncul motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber, dan sebagainya. Jenis dan corak batik tradisional sendiri tergolong sangat banyak. Corak dan variasinya disesuaikan dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang memiliki kebudayaan tradisi batik yang diwariskan turun temurun.

Kalangan keraton Semula menjadikan batik kesenian gambar di atas kain yang dikhususkan untuk pakaian keluarga para raja Jawa dan para pengikutnya. Karena itu batik hanya dikerjakan terbatas dalam lingkungan keraton. Namun karena banyak pengikut raja bertempat tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa ke luar keraton dan dikerjakan di rumah masing-masing abdi dalem.

Selanjutnya kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan meluas menjadi pekerjaan rumah tangga kaum wanita untuk mengisi waktu senggang. Maka, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari oleh wanita dan pria dari segala golongan kini seni batik telah menjadi Industri diproduksi secara besar-besaran di Indonesia menebus pasar Internasional. ( Yudi

Gangan Pelandok, Cita Rasa Pulau Belitung

Hitzfm Travel Belitong Gangan darat pelandok adalah salah satu masakan khas Pulau Belitung dengan menggunakan daging pelandok sebagai bahan utamanya dan diracik menggunakan bumbu khas nusantara seperti kunyit, laos, kemiri, kencur, bawang putih, bawang merah, asam,cabe, garam, terasi, singkong, serta pucuk daun nangka.

Bagi masyarakat Belitung yang berada di luar Pulau Belitung, tidak mudah untuk mendapatkan daging pelandok. Seperti yang dialami Evi Hardianti. Bagi perempuan asli Belitung berusia 27 tahun, yang sejak tiga tahun lalu bekerja di Jakarta, memasak makanan khas Pulau Belitung tidak bisa terpisahkan dari kehidupanya.

“Umumnya makanan di Jakarta, rasanya hampir mirip,” ucapnya disela-sela berbelanja kebutuhan memasak, di pasar tradisional Jembatan Merah Saharjo, Jakarta. Dengan satu kilo daging sapi. Hari itu, Evi akan memasak gangan pelandok. Karena daging pelandok tidak didapat, Evi menggantinya dengan daging sapi. Meski serat daging sapi agak berbeda dengan daging pelandok.

“Daging pelandok itu hampir sama seperti daging itik. Agak kenyal. Masakan gangan darat tidak mesti daging pelandok, bisa dengan daging sapi maupun ayam atau ikan,” tutur Evi sambil memasukan daging sapi ke dalam wadah air yang sudah mendidih.

Cara memasak gangan pelandok seperti yang dilakukan Evi adalah daging pelandok yang sudah terpotong kecil-kecil dimasukkan ke dalam air mendidih. Kemudian tunggu hingga daging menjadi lunak. Setelah itu, masukan singkong yang sudah terpotong kecil-kecil dan bumbu gangan yang sudah dihaluskan. Untuk menambah aroma dari rasa gangan darat ini, masukan daun nangka. Tunggu hingga matang dan rasakan nikmatnya dari gangan pelandok.

Pelandok atau kancil (nama ilmiah ; tragulus javanicus) adalah hewan menyusui (mamalia) sebangsa kijang yang kecil tubuhnya. Pelanduk adalah spesies rusa berkuku genap dari keluarga Tragulidae. Pada ukuran dewasa ukurannya sama dengan kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Masyarakat Pulau Belitung menyebutnya pelandok, yang hidup di kawasan hutan-hutan kecil. Namun belakangan ini pelandok langka di Pulau Belitung karena perburuan pelandok yang tidak terkontrol dan habitatnya terancam akibat hutan telah menjadi areal perkebuanan dan tambang-tambang liar.

Konon pada masa pemerintahan Belanda, pernah ada undang-undang perburuan bagi masyarakat Belitung sehingga hanya pada bulan-bulan tertentu saja masyarakat diizinkan untuk berburu pelandok. Ini dilakukan agar mamalia ini tetap terjaga dari kepunahan.(Arizal Wahyudi)

Sistem Kelembagaan Adat Belitong

Hitzfm Travel Belitong. Sejak abad ke 16, Ketika Depati Cakraninggrat I atau Ki Gegegeh Yak’kob (1618-1661) beliau membangun rumah adat yang disebut dengan Ruma Gede serta membuat pula hukum adat kemudian diterapkan dengan baik dan teratur, tetapi pada masa itu, sistem yang beliau terapkan masih sentralistis, artinya rakyat mesti berhubungan langsung kepada raja jika hendak mengaplikasikan ketentuan adat tersebut, misalnya dalam hal perizinan atau persetujuan membuka hutan, pemukiman, dan lain-lain.

Baru setelah pada masa Depati Cakraningrat II yaitu KA Abdulah atau Ki Mending (1661-1696) sistem pelaksanaan adat diserahkan kepada Dukon Kampong, di tiap-tiap kampung, jadi masyarakat tidak lagi mesti menemui raja jika hendak berurusan, baik mengenai adat maupun berbagai aturan wilayah lainnya Sistem kewenangan adat kemudian terbagi menjadi dua karena pada masa Cakraninggrat III atau KA Gending (1696-1700). Sistem pemerintahan dibawah raja dibentuklah wilayah-wilayah lebih kecil yang disebut dengan Ngabehi, Hingga Kerajaan Belitong terbagi menjadi empat Ngabehi Yaitu, Ngabehi Badau dengan sebutan Tanah Yudha atau Krama Yudha. Ngabehi Sijuk dengan sebutan Wangsa Yudha atau Krama Yudha. Ngabehi Belantu dengan sebutan Sura Yudha, Ngabehi Buding dengan sebutan Istana Yudha. (Pada masa itu, sebutan Tanah Yudha dan lainnya pada istilah nama wilayah, untuk mengenang dan menghargai masa-masa kerajaan Hindu Majapahit yang berpengaruh di Badau)

Sistem adat istiadat yang sudah berlaku turun temurun seperti misalnya; membuka ladang, mengambil hasil hutan, danau, sungai, laut, juga acara ritual adat seperti habis panen; maras taon, selamatan kampong, dan lain-lain diserahkan kewenangananya pada Dukon Kampong. Sedang sistem hukum adat yang bersipat atministratif diserahkan pada Ngabehi, misalnya pengawasan pajak, denda, perdagangan, perselisihan warga, jadi praktisnya kepala wilayah atau ngabehi sebagai eksekutor raja.

Selanjutnya setelah ajaran Agama Islam cukup kuat tertanam pada masyarakat Belitong, yaitu masa akhir penyebaran Islam setelah meninggalnya Syeh Abubakar Abdullah dan mubaliq lainnya, kemudian Belitong mengenal adanya Penghulu Agama, Penghulu Agama pertama kita kenal yaitu KA Siasip. Pada masa itu sistem penghulu atau pemimpin acara atau gawe yang berdasarkan sendi-sendi agama mulai diterapkan misalnya; aturan pernikahan, adat begawai dalam pesta perkawinan, adat selamatan atau syukuran kelahiran putra-putri turunan raja atau pun masyarakat biasa, dan lain-lain.

Kesemua adat dan tradisi di atas tetap berjalan berdampingan, dari zaman ke zaman dan berkembang hingga saat ini. Peran Raja, Ngabehi, Dukon Kampong, serta Penghulu, merupakan figur yang tetap melekat dan tak terlepaskan dalam masyarakat Belitong. Karena itulah, jika sistem dan perangkat adat ini tidak dilestarikan ia akan berangsur punah. Kearifan lokal serta nilai luhur Urang Belitong akan menjadi lenyap. Kita tak akan memiliki jati diri sebagai orang yang terbina dalam Bhineka Tunggal Ika. Karena itulah, masyarakat adat yang sekaligus sebagai kekayaan negeri yang memiliki nilai-nilai luhur tersebut, mesti ditumbuhkembangkan dalam kehidupan modern, ia mesti mengisi khasanah kehidupan kita.
Menyikapi nilai-nilai luhur tersebut tentu mesti dengan kesungguhan yang maksimal, karena itu sangatlah tidak arif dan bijak jika kita sebagai Urang Belitong tak mengenal dan tidak melestarikannya.

Karakter Masyarakat Adat Belitong Karakter budaya masyarakat Belitung terbentuk dari abad lampau yang kini tetap bersemayam dalam tiap pribadi urang Belitong, adalah karakter yang penuh “pikat”, dalam arti ia memiliki keelokan tersendiri yang tidak dimiliki oleh etnik suku lain di Indonesia; jika kita mengenal keterbukaan sosial, toleransi, solidaritas maka kita akan temui dalam masyarakatnya. Itu muncul dan tumbuh dalam tiap pribadi Urang Belitong asli, karakter ini memungkinkan suku atau etnik lain yang berasal dari luar Belitong akan menjadi betah untuk tinggal menetap di Belitong.
Karakter yang terbina dari adat-istiadat yang secara umum diberlakukan sejak abad permulaan pemerintahan Raja Belitong Atau Depati Cakraninggrat (Raja-Raja Balok, sebutan dari sebagian masyarakat Belitong) adalah karakter yang terbentuk secara menyeluruh dan otonom hingga ia memiliki kesan yang hampir sama di seluruh pelosok wilayah Belitung. Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut ini:

– Bahasa tuturnya lemah lembut; ini pengaruh otoritas raja yang menanamkan adat dengan sikap sopan dan santun guna membangun ketentraman dan kedamaian. Bahasa ini diseragamkan di seluruh kekuasaan raja, kemudian dikenal dengan sebutan Bahase Belitong. Meski irama dan bunyi tetap dipengaruhi lingkungan alam yang terbentuk secara alamiah, namun bunyi hurup-hurup vokalnya tetap sama. Kelembutan bahasa dan tuturnya ini ditanamkan secara adat dengan tujuan untuk tidak saling menyakiti satu sama lainnya. Sedangkan kesamaan bunyi agar tidak ada perbedaan derajat pada diri orang Belitung.
Kekuatan bahasa ini sungguh menakjubkan. Ini terbukti terhadap bahasa-bahasa ibu dari eknik lain yang tinggal di sana, bahasa lain akan melebur dengan cepat ke dalam Bahase Belitong. Kelembutan tutur kata-katanya, bunyi irama bahasanya yang mengalun  mendayu, telah menjadikan hati orang yang mencintai ketentraman dan kedamaian terpikat.

– Menghormati Hak dan kewajiban masing-masing. Ini bermula dari hukum adat peraturan negeri yang dibuat raja, kemudian mentradisi di wilayah pemukiman dengan persyaratan yang ketat dibawah pengawasan Dukon Kampong maka tiap-tiap warga sudah ditentukan hak dan kewajibannya, misalnya untuk lokasi bercocok tanam dan mengambil hasil alam. Wilayah untuk lokasi itu dijaga secara mistis oleh dan hanya dukon kampong yang tahu, karena itu setiap hal ikhwal mengenai kewilayahan mesti seizin Dukon kampong. Meski demikian masih terbuka untuk merambah keperluan dari tiap warga ke wilayah lain, tapi mesti seizin dukon di wilayah yang bersangkutan.

Karakter masyarakat dalam hal ini sesungguhnya telah menjadikan Urang Belitong menjadi masyarakat yang tak rakus dan ia menjadi bijak dalam memilah dan memilih kepentingannya, hingga beberapa dekade hutan-hutan dan sumber daya alamnya masih lestari. Hanya orang-orang luar yang tidak taat pada adatlah yang banyak menggerus hasil dan merusak alam dan sikap budaya luar ini kemudian merambah ke dalam pola pikir sebagian masyarakat adat Belitong.

Sikap Terbuka dan tak menyukai kekerasan. Karakter ini memang terbentuk karena pada masanya; raja, mubaliq, penghulu, serta lebai, telah menanam sifat-sifat terbaik yaitu tanpa ada prasangka negatif apa pun terhadap orang lain (baca orang asing, sejarah mencatat adanya penerimaan raja terhadap orang asing, bahkan musuh sekalipun; masukn